Lompat ke isi utama

Berita

Buka Kick Off Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) Tahun 2026, Lolly Suhenty: Kader P2P Harus Logis, Kritis, Berani dan Berdampak

Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia resmi membuka Kick Off Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) Tahun 2026 dengan tema “Berfungsi dan Bergerak untuk Pemilu 2029 yang Bermartabat”, Selasa (12/5/2026) secara daring melalui Zoom Meeting dan live streaming YouTube Bawaslu RI.

Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia resmi membuka Kick Off Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) Tahun 2026 dengan tema “Berfungsi dan Bergerak untuk Pemilu 2029 yang Bermartabat”, Selasa (12/5/2026) secara daring melalui Zoom Meeting dan live streaming YouTube Bawaslu RI.

Kupang - Badan Pengawas Pemilihan Umum Republik Indonesia resmi membuka Kick Off Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) Tahun 2026 dengan tema “Berfungsi dan Bergerak untuk Pemilu 2029 yang Bermartabat”, Selasa (12/5/2026) secara daring melalui Zoom Meeting dan live streaming YouTube Bawaslu RI.

Kegiatan tersebut menjadi langkah awal Bawaslu dalam mempersiapkan kader-kader pengawas partisipatif guna mengawal pelaksanaan Pemilu Tahun 2029 yang demokratis, jujur, adil dan bermartabat.

Anggota Bawaslu RI sekaligus Koordinator Divisi Pencegahan, Partisipasi Masyarakat, dan Humas, Lolly Suhenty, S.Sos.I., M.H. dalam sambutannya menyampaikan bahwa untuk mewujudkan Pemilu 2029 yang bermartabat harus dimulai dari sekarang melalui penguatan pendidikan pengawasan partisipatif.

“Untuk memulai Pemilu 2029 yang bermartabat maka harus dimulai dari sekarang. Pendidikan Pengawas Partisipatif yang dilakukan hari ini merupakan upaya menyiapkan kader-kader pengawas partisipatif untuk melakukan pengawasan nantinya,” ujar Lolly.

Ia menegaskan bahwa kader P2P harus memiliki karakter logis, kritis, berani dan berdampak dalam menjalankan tugas pengawasan partisipatif.

Menurutnya, karakter logis diperlukan agar kader mampu menjalankan tugas berdasarkan regulasi dan aturan yang berlaku. Sementara karakter kritis dibutuhkan agar kader mampu banyak bertanya dan mempertanyakan berbagai fenomena yang terjadi sepanjang tahapan pemilu.
“Dengan daya kritis tersebut, kader mampu menjadi benteng kuat bagi kerja-kerja demokrasi,” tambahnya.

Selain logis dan kritis, kader juga harus memiliki keberanian untuk melakukan pencegahan serta menyampaikan informasi terkait dugaan pelanggaran pada tahapan pemilu. Tidak hanya itu, para kader juga diharapkan memiliki karakter berdampak setelah mengikuti proses pendidikan, sehingga mampu memberikan pengaruh positif terhadap proses pengawasan Pemilu 2029 mendatang.

Pelaksanaan Kick Off Pendidikan Pengawas Partisipatif Tahun 2026 diikuti oleh jajaran Bawaslu Provinsi dan Kabupaten/Kota se-Indonesia serta berbagai elemen masyarakat yang turut berpartisipasi secara virtual.

Melalui kegiatan ini, Bawaslu berharap semangat pengawasan partisipatif dapat terus tumbuh di tengah masyarakat sebagai bagian penting dalam menciptakan Pemilu 2029 yang berintegritas dan bermartabat.

Penulis : Maria Hakim

Foto : Humas Bawaslu NTT