Demokrasi Lokal di Persimpangan, Ketua Bawaslu Provinsi NTT Beri Penguatan Pengawasan Pemilu Bagi Kader HMI Cabang Kupang
|
Kupang, Bawaslu NTT – Ketua Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), Nonato Da Purificacao Sarmento, menegaskan pentingnya peran intelektual muda dalam menjaga kualitas demokrasi lokal melalui pengawasan pemilu yang partisipatif. Hal tersebut disampaikannya saat menjadi narasumber utama dalam Latihan Kader II (LK II) Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kupang, Minggu (25/01/2026).
Dalam forum yang berlangsung di Kota Kupang tersebut, Nonato membawakan materi bertajuk “Demokrasi Lokal di Persimpangan: Tantangan Pengawasan Pemilu di Nusa Tenggara Timur”. Ia menekankan bahwa demokrasi lokal merupakan fondasi utama demokrasi nasional yang menuntut keterlibatan aktif seluruh elemen masyarakat, tidak hanya pada saat pemungutan suara, tetapi juga dalam mengawal kebijakan publik pasca-pemilu.
“Kedaulatan rakyat tidak berhenti di bilik suara. Demokrasi sejati menuntut partisipasi berkelanjutan dalam mengawasi jalannya kekuasaan dan kebijakan publik,” tegas Nonato.
Lebih lanjut, Nonato menjelaskan konsep piramida politik kewargaan, di mana masyarakat ditempatkan sebagai subjek utama demokrasi. Menurutnya, kesadaran politik warga harus dibangun dari tingkat lokal agar demokrasi tidak terjebak pada formalitas prosedural semata.
Dalam pemaparannya, Nonato juga mengulas potret dan tantangan penyelenggaraan pemilu di NTT. Kondisi geografis wilayah kepulauan, keterbatasan akses, serta kerawanan politik uang, hoaks, dan politik identitas masih menjadi tantangan serius dalam setiap tahapan pemilu.
Sebagai lembaga pengawas, Bawaslu NTT, kata Nonato, berkomitmen menjalankan tugas pokok dan fungsinya secara profesional melalui upaya pencegahan, pengawasan, dan penindakan pelanggaran. “Bawaslu adalah penjaga gawang demokrasi. Integritas pemilu harus kita jaga bersama agar hasilnya benar-benar mencerminkan kehendak rakyat,” ujarnya.
Pada kesempatan tersebut, Nonato mengajak seluruh elemen masyarakat untuk memperkuat pengawasan partisipatif. Ia menekankan peran strategis masyarakat sipil, perguruan tinggi, media, organisasi kepemudaan, serta intelektual muda dalam mengawal proses demokrasi.
“Kader HMI sebagai intelektual muda harus mampu membaca arah demokrasi kita. Apakah kita akan tetap berada di jalur konstitusi atau justru terjebak di persimpangan pragmatisme. Peran Anda dalam pengawasan partisipatif adalah kunci,” pungkas Nonato di hadapan peserta LK II.
Penulis : Andry Safii
Foto : Febrian Maulana Pamungkas